BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Al-Qur’an merupakan kitab yang
syamil yang mencakup seluruh ajaran Tuhan yang ada pada kitab-kitab yang
diturunkan sebelumnya (Taurat, Injil, dan Zabur) dan lain-lain. Sebagaimana
firman Allah dalam surat al-Maidah:48 “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al
Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu
Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab
yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan
dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran
yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan
aturan dan jalan yang terang”.
Pada ayat di atas
disebutkan bahwa Allah swt memerintahkan kepada nabi supaya dalam
memutuskan segala persoalan yang timbul di antara seluruh umat manusia ini
dengan menggunakan hukum dari al-Qur’an, baik orang-orang yang beragama Islam
atau pun golongan ahlul kitab (kaum Nasrani dan Yahudi) dan jangan sampai mengikuti
hawa nafsu mereka sendiri saja.
Dijelaskan pula bahwa setiap umat
oleh Allah swt.diberikan syariat dan jalan dalam hukum-hukum amaliah yang
sesuai dengan persiapan serta kemampuan mereka. Adapun yang berhubungan dengan
persoalan akidah, ibadah, adab, sopan santun serta halal dan haram, juga yang
ada hubungannya dengan sesuatu yang tidak akan berbeda karena perubahan masa
dan tempat, maka semuanya dijadikan seragam dan hanya satu macam, sebagaimana
yang tertera dalam agama-agama lain yang bersumber dari wahyu Allah swt. Allah
berfirman dalam surat as-Syura:13
“Dia telah
mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada
Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan
kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu
berpecah belah tentangnya”
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa keistimewaan Mukjizat Al-qur’an ?
2. Apa kemukjizatan estetika dan sistematika Al-Quran yang diingkari
kebenarannya oleh An-Nadzzam ?
1.3 Tujuan
2. Untuk mengetahui keistimewaan Mukjizat Al-qur’an.
3. Untuk mengetahui kemukjizatan estetika dan sistematika Al-Quran
yang diingkari kebenarannya oleh An-Nadzzam.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Keistimewaan Mukjizat Al-Quran
قَالَ اللهُ تَعَالَى: )وَلاَ يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلاَّ
جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا( (Q.S.
Al-Furqan [25]: 33)
وقَالَ جَلَّ جَلاَلُهُ: )إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ
لَحَافِظُونَ( (Q.S. Al-Hijr [15]: 9)
Tidak
ada kitab pegangan umat sepanjang sejarah yang kesucian dan kemurniannya
senantiasa terjaga dari noda hitam tangan-tangan jahil yang ingin mengotori
kitab suci tersebut dengan begitu picik dan congkak, kecuali Al-Quran yang
tetap suci terjaga di benteng hati umat.Hanya kitab ini yang cahayanya dari
hari ke hari semakin kuat menyinari kegelapan hati yang tertutup oleh
kebodohan, fanatik, dan keangkuhan dari cahaya kebenaran hakikat-hakikat
ketuhanan yang dibiaskan lembaran-lembaran kitab alam semesta ini.
Semakin kuat
mereka menutupi cahaya hakikat-hakikat Al-Quran, semakin kuat juga pancaran
cahayanya keluar dari sela jari-jemari mereka.Semakin kuat mereka membendung
arus kebenarannya, semakin kuat pula arusnya menghantam dinding-dinding
keyakinan dan filsafat hidup mereka. Yah, sejak hari pertama Al-Quran turun
hingga kini, ia senantiasa terjaga dan menjaga siapa saja dari mereka yang
ingin mendekatkan dirinya di benteng keimanan penjagaannya, seperti jaminan
Allah yang ditegaskan dengan begitu jelas dan kuatnya kedua ayat di atas.
Sebelum Anda terlalu jauh diajak
melihat sisi-sisi keistimewaan mukjizat Al-Quran, kita diminta melihat buah
pikir mereka yang ingin melucuti Al-Quran dari kemukjizatan estetika dan
sistematikanya.
Yang diyakini bersama, Al-Quran
dikatakan mukjizat karena tidak mampu ditandingi oleh para ahli sastra dan
ilmuwan untuk mendatangkan Qur’an tandingan yang mampu menyamai atau menyaingi
derajat keindahan dan ketinggian bahasa Al-Quran, kitab penyejuk kalbu umat
dari segala penyakit maknawi yang merongrong kekuatan iman dalam menahkodai
kehidupan.
Yang menjadi pertanyaan,
kekuatan maknawi Al-Quran ini, apakah lahir dari zat Al-Quran sendiri atau
mungkin saja ada faktor lain yang datang dari luar zat Al-Quran sehingga mereka
tersungkur lemah mengakui kekalahan di medan tanding tersebut? Seseorang
dikatakan punya kekuatan luar biasa jika terlihat otot-otot tubuhnya bekerja
terpadu dan berirama menciptakan energi, dan tentu mustahil, bahkan jadi bahan
tertawa, jika kekuatan luar biasa itu Anda kembalikan ke orang lain yang hanya
diam melihat terpaku kekuatan tersebut. Olehnya itu, di saat Abu Izhaq
An-Nadzzam Ibrahim bin Yasar, salah satu imam Mu’tazilah, pendiri jamaah
An-Nidzamiyyah, lebih menitikberatkan kemukjizatan Al-Quran pada ayat-ayat
gaib, dan mengabaikan estetika dan sistematika Al-Quran sebagai salah satu
corak kemukjizatan yang paling nampak dan terang dengan alasan bahwa manusia
mampu mencapai tingkat kemukjizatan sistematika tersebut, seandainya Allah
tidak mengangkat dari mereka kemampuan tanding, di saat An-Nadzzam menyatakan
demikian, dengan mudah para pecinta Al-Quran dari ahli tahkik menolak
pernyataan ini. Yang demikian itu karena Abu Izhaq an-Nadzam menyalahi
kesepakatan ahli ilmu-ilmu Al-Quran yang mengembalikan kemukjizatan Al-Quran ke
zatnya sendiri.
Berikut ini perkataan An-Nadzzam
sebelum memberikan jawaban meyakinkan yang kedua kalinya, beliau berkata:
“Keajaiban Al-Quran terletak
di berita-berita ghaibnya.Adapun susunan dan sistematikanya masih dalam batas
kemampuan hamba untuk meniru dan menandinginya, seandainya saja Allah SWT tidak
mencegah mereka dengan menciptakan kelemahan dalam diri mereka.”([1])
Lanjutnya, beliau mempertegas
pernyataannya dengan mengatakan:
“Sistematika Al-Quran dan
keindahan penempatan kalimatnya bukanlah mukjizat Rasulullah Saw, dan bukan
bukti atas kebenaran dakwahnya, tetapi, yang menjadi bukti kebenarannya adalah ayat-ayat
gaib.Sekali lagi, sistematika Al-Quran dan keindahan rangkaian ayat-ayatnya
bukanlah mukjizat, sesungguhnya hamba-hamba Allah mampu mendatangkan yang
serupa dengannya, bahkan yang lebih indah darinya.”([2])
Setelah Anda mengetahui salah
satu sisi kelemahan pernyataan ini, Anda diajak yang kedua kalinya mengetahui
titik lain dari kelemahan dan kerapuhannya. Kesimpulan ini roboh dan runtuh
karena mengerucutkan kemukjizatan Al-Quran pada ayat-ayat gaib dan menjatuhkan
dari ayat-ayat lain corak-corak kemukjizatan, seperti: kemukjizatan ayat-ayat
hukum, ayat-ayat ilmiah yang mengisyaratkan hakikat-hakikat ilmu pengetahuan,
ayat-ayat akhlak social, dan kemukjizatan sistematikanya yang memukau. Di
samping itu, ayat-ayat gaib jumlahnya tidak terlalu banyak dilihat dari jumlah
ayat-ayat lain Al-Quran.([3])
Bukan hanya itu, penulis pun
menangkap kelemahan lain pernyataan tersebut. Yang demikian itu karena
seandainya kemukjizatan sistematika Al-Quran datang dari kelemahan yang Allah
ciptakan dalam diri mereka, kenapa Allah menantang mereka dengan begitu
terangnya untuk mendatangkan Qur’an serupa yang mendekati atau menyamai tingkat
keindahan estetika dan sistematikanya, seperti di Q.S Al-Baqarah [2]: 23?
Tentunya, aneh dan mustahil jika Allah menantang mereka dengan tantangan
seperti itu, kemudian mencabut dari mereka kekuatan tantangan yang dapat
memberikan tandingan.Bukankah itu pekerjaan sia-sia yang Allah Maha Suci
darinya?
2.1 Kemukjizatan estetika dan
sistematika Al-Quran yang diingkari kebenarannya oleh An-Nadzzam.
Al-Jahidz berkata:
“Di antara mereka ada yang
menggunakan kata-kata bukan pada tempatnya, sementara itu, di sana ada kata
lain yang lebih tepat darinya. Apakah Anda tidak melihat Allah tidak dijumpai
menyebutkan di Al-Quran kata (الجُوْع) kecuali untuk memaknai azab penyiksaan
yang menimpa orang-orang kafir, atau untuk mewakili makna kefakiran yang
melilit dan kelemahan mutlak.Sementara itu, manusia menempatkannya bukan pada tempatnya,
mereka menggunakan kata ini dan bukan kata (السّغَب) di kondisi aman dan kuat.Bukankah ini
menyalahi penempatan kata yang semestinya, seperti penempatan kata Al-Quran
yang tepat.Demikian pula dengan kata (المَطَر) yang berarti hujan.Al-Quran tidak
menyebutkannya kecuali ditempatkan di makna azab penyiksaan, sementara itu,
orang awam bahkan masyarakat berpendidikan tidak membedakan penggunaan kata itu
dengan kata (الغَيْث) yang berarti hujan yang membawa rahmat, bukan hujan azab.
Kemudian, Al-Quran jika menyebut (الأبْصَار) yang berarti penglihatan, ia menyebut
pendengaran dalam bentuk tunggal (السَّمْع), dan jika menyebut tujuh lapisan langit (سَبْعُ سَماَوَات),
ia menyebut bumi dengan bentuk tunggal (الأرْض). Apakah Anda tidak melihat perbedaan ini,
bahasa manusia yang menyalahi bahasa Al-Quran yang tidak menempatkan kata,
kecuali kata itu tepat mewakili makna yang diinginkan dan tidak dapat diganti
dengan kata lain?”([4])
Hematnya, Al-Quran tidak memilih
kata tertentu dalam mewakili sebuah pemaknaan, kecuali hanya kata itulah yang
tepat ditempatkan.Yang demikian itu karena hanya kata itu yang mampu menjaga
keutuhan makna bagian-bagian sistematika Al-Quran.Keutuhan makna yang mengalir
hidup di seluruh bagian sistematika Al-Quran, dari kalimat ke kalimat, dari
kelompok ayat ke kelompok ayat lain, dari tema ke tema, dari surah ke surah, seperti
aliran darah yang tidak henti-hentinya mengalir di sel-sel darah manusia.
Anda dapat melihat penegasan
makna tersebut di pernyataan Syekh Ibn Atiyyah berikut ini:
“Sisi terkuat tantangan
Al-Quran adalah sistematika, keshahihan makna, dan kefasihan kosa katanya.Yang
demikian itu karena ilmu Allah meliputi segala sesuatu.Allah mengetahui kata
mana yang tepat untuk datang menyertai kata pertama dalam merangkai makna demi
makna dari awal Al-Quran hingga akhir. Dan karena manusia dengan keterbatasan,
kebodohan, lupa, dan kelemahan ilmunya meliputi segala sesuatu, sementara itu,
sistematika Al-Quran datang dengan derajat estetika yang tinggi menjulang,
sehingga jelas kesalahan perkataan mereka: (orang-orang Arab mampu mendatangkan
yang serupa dengan Al-Quran, namun kekuatan mereka dicabut, sehingga mereka
lemah tidak berdaya menandingi Al-Quran).
Yang benarnya, tidak ada satu
pun yang mampu mendatangkan Qur’an tandingan. Yang demikian itu jika Anda
meyakini kelemahan mutlak manusia tanpa terkecuali dan melihat bagaimana orang
fasih menyusun khutbah atau bait syair dengan sekuat tenaga, kemudian ia
senantiasa memperbaiki bagian-bagiannya setahun penuh, kemudian Anda
menyodorkannya ke yang lain dan ia pun masih mengoreksi dan memperbaiki, dan
begitulah seterusnya. Adapun Al-Quran, perbedaannya sangat jauh dengan
kreasi-kreasi sastra manusia. Jika Anda ingin membuang satu kata dari
ayat-ayatnya dan menggantinya dengan kata lain, yakinlah Anda tidak akan
menemukan kata lain yang lebih tepat darinya dilihat dari sistematika pemaknaan
yang ada.”([5])
Ini pun dapat Anda simak di
pernyataan Dr. Mustafa Muslim berikut ini:
“Setiap kata dalam sebuah struktur kalimat saling menyesuaikan diri, Semuanya
memberikan kadar tertentu terhadap makna umum dari kalimat tersebut. Olehnya
itu, jika makna yang diinginkan baru dan asing dari yang lumrah diketahui, maka
katanya pun kedengaran asing dan tidak lumrah, dan apabila makna yang
diinginkan lumrah, dia pun mendatangkan kata yang sesuai.”([6])
Akurasi deskripsi ini dapat dilihat dalam penafsiran Ustadz Nursi pada
firman Allah SWT:
وقَالَ تَعَالَى: )يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ
الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ( (Q.S. Al-Baqarah [2]: 19)
“Al-Qur’an datang dengan kata (يَجْعَلُوْنَ), bukan dengan (يُدْخِلُوْنَ), sebagai isyarat bahwa sesungguhnya
orang-orang kafir senantiasa mencari sebab keselamatan, tidak ada satu sebab
keselamatan yang mereka kira, kecuali pintunya diketuk.
Selanjutnya, kata (أَصَابِعَهُمْ), dan bukan dengan (أَنَامِلَهُمْ), sebagai tanda bahwa mereka diliputi
kebingungan yang dahsyat terhadap perkara diri mereka sendiri.
Lain halnya dengan kata (فِىْ آذَانِهِمْ) dan bukan anggota tubuh lain, sebagai
gambaran hidup yang memperlihatkan ketakutan mereka yang berlebihan setiap kali
mendengar suara guntur, ketakutan jiwa yang melihat gemuruh suara tersebut
seperti punya kemampuan menerbangkan ruh mereka lewat mulut, jika ia masuk di
gendang telinga.
Adapun kata (مِنَ الصَّوّاعِق), dan bukan kata lain, sebagai isyarat bahwa antara petir dan
guntur bersatu padu memberikan mudarat kepada mereka. Yang demikian itu karena
kata (الصَّاعِقَة) itu sendiri artinya gemuruh suara yang disertai dengan api
yang menghanguskan apa saja yang diterpainya.
Selanjutnya, kata (حَذَرَ المَوْت) mengisyaratkan dahsyatnya musibah yang melanda mereka, dan
mereka tidak melakukan semua itu, kecuali takut mati dan ingin keselamatan
belaka.”([7])
Satu lagi contoh yang tentunya akan menambah keyakinan Anda terhadap
kemukjizatan sistematika dan estetika Al-Quran dalam memberikan pemaknaan,
contoh yang disebutkan Ustadz Nursi berikut ini di firman Allah:
وقَالَ تَعَالَى ذِكْرُهُ: )وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ( (Q.S. Al-Baqarah [2]: 3)
“Jumlah kalimat ini mengisyaratkan 5 syarat dalam pelaksanaan sedekah, ini
terpancar dari setiap bagian kalimat tersebut:
Syarat pertama terilhami dari huruf (مِن) at-Tab’idiyyah ([8])
pada kalimat (مِمَّا), artinya: hendaknya para pemberi sedekah tidak melampaui batas
kemampuan mereka dalam bersedekah, sehingga nantinya mereka sendiri yang
mengulurkan tangan minta sedekah.
Syarat kedua terwujud dari kata (رَزقنْاَهُم), artinya: yang bersedekah tidak mengambil
rezeki Said, dan menyedekahkannya ke Amru. Akan tetapi, yang wajib sedekah itu
dikeluarkan dari hartanya sendiri, seperti makna yang diserukan kata itu
sendiri: “Sedekahkanlah sebagian dari apa yang kami telah rezekikan kepada
kalian!”
Syarat ketiga tersirat pada kata (نَا) di (رَزَقْنَاهُم), artinya: hendaknya yang bersedekah
jangan menghitung kebaikannya karena kata itu menegaskan: “Pada hakikatnya,
kamu tidak punya pemberian apa-apa terhadap mereka di sedekah tersebut. Saya
yang telah memberi kamu rezeki.Apa yang kamu sedekahkan itu sebagian dari
harta-Ku kepada hamba-Ku sendiri.”
Syarat keempat terlihat di (يُنْفِقُوْن), artinya: hendaknya yang bersedekah
menyedekahkan hartanya kepada mereka yang benar-benar butuh, karena jika tidak
seperti itu, sedekah yang dikeluarkan bukan pada tempatnya tidak diterima di
sisi-Nya.
Syarat kelima terukir juga di (رَزَقْنَاهُم), artinya: hendaknya sedekah dengan nama
Allah SWT, karena kata itu menyiratkan: “Harta itu harta-Ku, maka wajib atas
kamu menafkahkannya dengan atas
nama-Ku.”
Selain kelima syarat sedekah yang tersirat dalam ayat tersebut, ayat ini juga
mengisyaratkan makna umum dalam sedekah. Karena di antara sedekah itu ada yang
berbentuk harta, ada juga yang terhitung sedekah yang tidak bersifat materi,
seperti: ilmu pengetahuan, perkataan, perbuatan, dan nasihat. Makna-makna ini
dikoleksi isyarat kata (مَا) (relative noun) di (مِمَّا) yang memberikan makna umum.
Demikianlah jumlah yang singkat ini mengoleksi lima syarat sedekah dan
menjelaskan tempat-tempat pendistribusiannya dengan begitu luas.”([9])
Jika Anda telah meyakini kemukjizatan sistematika Al-Quran dilihat dari
ketelitian dan ketepatannya memilih dan merangkai kata menjadi kalimat yang
memberikan pemaknaan yang terpadu dengan makna kalimat lain di ayat tertentu,
sehingga ayat itu dengan sendirinya menyuguhkan bagian pemaknaan yang menyatu
dengan makna umum kelompok ayat dan tujuan umum sebuah surah. Kini, Anda pasti
sudah siap mengetahui lebih lanjut keistimewaan mukjizat sistematika
surah-surah Al-Quran.
Sebelum terlalu jauh menyentuh sisi ini, ada pertanyaan mendasar yang menunggu
jawaban dari Anda. Mereka mengatakan: “Baik Anda atau kami pasti mengetahui
bahwa Al-Quran mengoleksi makna yang begitu banyak dalam satu surah. Tentunya,
ini cukup meragukan kemampuan Al-Quran memetik hasil banyak.Seandainya saja
setiap tema satu surah, pastinya lebih baik dan memudahkan pecinta Al-Quran
memetik langsung makna-makna Al-Quran?”
Sebelum penulis mengajak Anda terlalu jauh memberikan jawaban, Anda diajak
melihat ilustrasi makna berikut ini:
Jika Anda masuk kebun yang memiliki banyak jenis tanaman, tentu dengan mudahnya
Anda memenuhi kebutuhan yang diinginkan, Anda bisa memilih satu jenis buah dan
meninggalkan yang lain sesuai dengan kebutuhan yang ada, beda halnya jika kebun
itu hanya memperlihatkan satu jenis tanaman, tentu tidak ada pilihan bagi Anda,
dan boleh jadi Anda meninggalkan kebun itu tanpa memetik sesuatu pun.
Al-Quran tidak jauh beda dari ilustrasi di atas. Dengan koleksi makna yang
beraneka ragam dalam satu surah, ia memudahkan pecinta kalam ilahi memilih
jenis kebutuhan maknawi akal dan kalbu mereka, sehingga tidak ada pengunjung
yang pulang dengan tangan kosong, semuanya pulang dengan bawaan masing-masing
dengan penuh rasa puas. Jika Anda membelanjakan waktu Anda di perbendaharaan
makna Al-Quran, Anda pasti merasa kaya makna, akal menemukan ilmu, hati mendapatkan
pencerahan, kehidupan tersinari dengan percikan-percikan maknawiyat Al-Quran
yang begitu tinggi dan bersahaja.Olehnya itu, meskipun Anda membaca satu surah,
Anda seperti membaca seluruh surah Al-Quran. Yang demikian itu karena maqashid
Al-Quran (tujuan mendasar penurunan Al-Quran yang meliputi semua manusia,
seperti: ketuhanan, kenabian dan risalah, keadilan, dan hari kebangkitan)
terhimpun dalam surah itu, bahkan terkoleksi di kalimat dan ayat-ayatnya.
Kebenaran ini dipertegas oleh pernyataan Imam al-Baqilani berikut ini:
“Jika mereka mengatakan: Andai kata Al-Quran turun seperti buku-buku lain yang
bab dan pasal-pasalnya telah tertata rapi, sehingga setiap jenis ilmu dimuat
satu surah, tentunya ia akan memperlihatkan sistematika yang lebih baik dan
faedahnya pun pasti banyak? Jawabnya: “Al-Quran turun seperti itu, turun dengan
mengumpulkan pelbagai makna dalam satu surah, bahkan dalam satu ayat, supaya
faedahnya lebih banyak dan lebih meluas. Seandainya saja setiap tema satu surah,
tentu faedahnya tidak terlalu banyak, dan orang kafir yang mendengarnya tidak
terhujat kecuali dengan satu makna itu yang dikoleksi surah tersebut, tetapi
dengan koleksi makna yang padat di setiap surah, sistematika Al-Quran lebih
banyak memberikan manfaat.””
Di samping itu,
Al-Quran kitab petunjuk dan penyembuh yang mencakup semua lapisan
masyarakat.Supaya dengan mudahnya mereka mendapatkan bimbingan hidup dan obat
maknawi terhadap penyakit mereka, Al-Quran mengoleksi banyak makna dalam setiap
surah, sehingga meskipun mereka tidak membaca semua surah Al-Quran, mereka
seperti mendapatkan semua obat Al-Quran. Yang diyakini penulis, obat Al-Quran
ini tujuan penyembuhannya sama, yang berbeda cara Al-Quran memaparkan obat-obat
maknawinya sesuai dengan pemaknaan umum yang mengalir di bagian-bagian
sistematika sebuah surah.
Ustadz Said
Nursi berkata:
“Ketahuilah!
Al-Quran titah ilahi dan obat semua lapisan manusia, dari yang paling cerdas ke
yang lebih bodoh, dari yang paling bertaqwa ke yang jatuh di dasar jurang
kesengsaraan, dari yang mendapatkan taufiq meniti jalan akhirat ke yang
terfitnah oleh kenikmatan-kenikmatan dunia yang semu. Jika sulit bagi setiap
orang membaca Al-Quran setiap saat, sementara Al-Quran itu obat dan penyembuh
setiap orang di setiap waktu, olehnya itu, Yang Maha Bijaksana lagi Maha
penyanyang menempatkan kebanyakan dari maqashid-maqashid Al-Quran di pelbagai
surah, khususnya surah-surah panjang, sehingga setiap surah seperti mini
Al-Quran yang memudahkan setiap pemerhati dan pecinta Al-Quran.” ([11])
Keistimewaan
lain mukjizat Al-Quran yang tidak kalah terangnya dengan keistimewaan di atas,
maknanya yang senantiasa meremaja, fresh, dan tidak pernah berhenti memberikan
perasan sari pati makanan hati dan akal bagi mereka yang haus hikmah-hikmah
qur’ani dan hakikat-hakikat keimanan.Al-Quran menyuguhkan sari pati maknanya
sesuai dengan tingkat keilmuan dan pemahaman pemerhatinya.Apa yang didapat si A
terhitung sari pati terhadapnya, begitu pula dengan B, meskipun derajat gizi
rohani kedua sari pati tersebut beda tingkat, dilihat dari perbedaan tingkat
pengetahuan.
Hematnya,
percikan-percikan makna Al-Quran ini tidak akan pernah habis selagi pentas
manusia di dunia masih berjalan. Di lain sisi, satu makna dari makna-makna yang
tidak terhingga itu memberikan kekuatan maknawi yang sama kepada setiap
pecintanya, meskipun pengaruh obat maknawi ini terhadap kalbu berbeda-beda,
sesuai penyakit dan kesiapan mereka menerima pesan-pesan maknawi tersebut
menjadi obat mujarab.
Semakin tinggi
tingkat kebutuhan dan kepapaan kita di hadapan mega makna Al-Quran, semakin
besar peluang akal dan hati tercerahkan dengan kesejukan embun
panggilan-panggilannya, puja-pujinya memaparkan keagungan dan kemuliaan zat dan
sifat-sifat Allah yang Maha Bijak dan Mengetahui, hikmah-hikmah hukum
syariat-Nya, teguran-tegurannya untuk orang-orang beriman yang kadang terasa
halus dan kadang juga terasa keras menyusut dari perumpamaan-perumpamaannya
yang memperlihatkan tragedi menyedihkan umat-umat terdahulu yang angkuh
mengikuti ajaran nabi-nabi mereka.
Olehnya itu,
buanglah dari jubah pribadi qur’ani Anda keangkuhan dan kesombongan yang kadang
mengecoh diri Anda sendiri dengan ego dan popularitas semu.Semakin suci diri
Anda dari sifat-sifat seperti ini, semakin besar kesempatan Anda mengisi
kekosongan jiwa yang menanti siraman-siraman ayat ketuhanan Al-Quran.
Yang cinta Qur’an,
mereka yang selalu merasa butuh tiap saat terhadap petunjuk Al-Quran, merasakan
kejanggalan hidup jika satu hari berlalu darinya tanpa sentuhan-sentuhan
Al-Quran yang lahir dari bacaan, tadabbur, dan tafsir.
Hakikat
keistimewaan mukjizat Al-Quran ini dapat Anda lihat penjabarannya di penafsiran
ilmiah Ustadz Nursi yang menggambarkan perbedaan tingkat pengetahuan manusia
dalam memahami makna dan hikmah penciptaan gunung, seperti di ayat berikut ini:
وقَالَ جَلَّ ثَنَاؤُهُ: )وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا( (Q.S. An-Naba’ [78]: 7)
“Dari Mereka ada yang
melihat gunung-gunung itu seperti pasak yang ditancapkan ke perut bumi,
sebagaimana yang nampak di hadapan mata, sehingga dengan sendirinya mereka
memikirkan nikmat dan faedah penciptaan gunung, dan mensyukuri Sang
Pencipta.Itulah bagian orang-orang awam.
Ada juga
dari mereka yang mengkhayalkan bumi layaknya tanah yang terhampar, atap langit
ibaratnya tenda biru yang sangat besar mengelilingi bola dunia dan dihiasi
dengan lampu-lampu, gunung-gunung nampak baginya memenuhi cakrawala, dan
puncaknya menyentuh ujung-ujung langit sehingga mereka seperti pasak-pasak
tenda besar itu.Ia pun tercengang, takjub, dan menyucikan Sang Maha Pencipta
yang Mulia. Itulah bagian para penyair.
Ada juga
dari mereka yang mencontohkan permukaan bumi dengan padang pasir yang luas,
melihat rentetan pegunungan mirip dengan rentetan tenda besar yang dihuni oleh
pelbagai makhluk hidup, sehingga lapisan-lapisan tanah ibaratnya penutup yang
sengaja dilemparkan ke ujung pasak-pasak itu untuk diangkat menjulang ke atas
dengan ketajaman yang ada pada unjungnya, sehingga menjadi rumah-rumah yang
dihuni aneka ragam makhluk hidup. Demikianlah dia memahami sambil bersujud di
hadapan Sang Pencipta yang Maha Mulia dalam keadaan tercengang dan takjub dari
penciptaan gunung-gunung tersebut yang dimisalkan dengan tenda-tenda yang
dibentangkan di atas permukaan bumi. Itulah bagian orang-orang badui yang
berakal.
Dan ada
pula dari mereka yang melihat bola dunia seperti kapal yang sedang berlayar di
atas ombak samudera udara dan eter (unsur sangat halus yang memenuhi lapisan
teratas ruang angkasa), gunung-gunung seperti tiang-tiang kapal yang berfungsi
menjaga keseimbangan. Begitulah ahli geografi berpikir sembari berkata di
hadapan keagungan Sang Maha Kuasa yang telah menjadikan bola dunia sebagai kapal
yang berlayar dengan frekuensi kecepatan yang teratur, dan menjadikan kita
penumpang di dalamnya: “Maha Suci Engkau, dan Maha Agung perihal-Mu, ya Allah.”
Dan ada
juga dari mereka yang memahami bumi seperti pemukiman, dan tolak punggung
kehidupan pemukiman ini adalah makhluk hidup yang melangsungkan kehidupan
mereka di dalamnya.Sementara itu, sumber kehidupan adalah air, udara, dan
tanah. Di sini gunung sebagai penjaga dan pelestari ketiga unsur ini, karena
gunung gudang air, filter udara yang mengendapkan gas-gas beracun (filtrasi),
pelindung terhadap tanah dari telapan air laut dan lumpur, dan gudang terhadap
segala kebutuhan manusia. Demikianlah ia memahami sembari memuji dan menyucikan
Sang Maha Pencipta yang Maha Mulia dan Pemurah yang menjadikan gunung-gunung
sebagai pasak dan gudang makanan terhadap kelangsungan hidup manusia di
permukaan bumi. Itulah bagian para ahli ilmu sosial kemasyarakatan yang tahu
dasar-dasar peradaban modern.
Dan ada juga dari mereka yang
tahu bahwa mekanisme pembauran unsur-unsur tanah, dan gempa yang terjadi di
dasar bumi akan berhenti dengan adanya gunung. Olehnya itu, gunung-gunung telah
menjaga keseimbangan siklus putaran bola dunia pada orbitnya mengelilingi
matahari. Begitulah Para filosof memahami dan mengimani sembari berkata:
“Hikmah itu milik Allah.””([12])
Hematnya, keistimewaan mukjizat
Al-Quran tidak mungkin dibatasi oleh pena dan tulisan, selagi Al-Quran mencakup
corak-corak kemukjizatan yang tidak terhingga. Olehnya itu, di akhir tulisan
ini saya mengajak pemerhati dan pecinta Al-Quran menyuarakan kesimpulan berikut
ini:
“Perlihatkan kepapaan Anda di
hadapan mega makna Al-Quran, kepapaan yang butuh pencerahan rohani dan kekuatan
maknawi sentuhan-sentuhan ayatnya yang menyejukkan! Yakinilah! Keindahan
estetika dan sistematika Al-Quran yang memukau tidak mungkin tertandingi oleh
kekuatan apa pun! Corak kemukjizatan ini salah satu corak kemukjizatan yang
paling bersinar.Sekali lagi, tunjukkan kepapaan Anda dan arahkanlah diri Anda
dengan sepenuh jiwa ke alam qur’ani yang penuh pesona dengan suguhan-suguhan
maknanya yang tidak bertepi.”
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Al-Qur’an
merupakan kitab yang syamil yang mencakup seluruh ajaran Tuhan yang ada pada
kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya (Taurat, Injil, dan Zabur) dan
lain-lain. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Maidah:48 “Dan Kami telah
turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang
sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian
terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa
yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan
meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat
diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang”.
DAFTAR PUSTAKA
([7]) Said Nursi, Isyarat al-I’jaz, hlm. 138-139
http://www.dakwatuna.com/2013/03/20/29605/keistimewaan-mukjizat-al-quran/#ixzz2WMPVuZl8
Tidak ada komentar:
Posting Komentar